Kamis, 27 Februari 2014

CONTOH KTI KEBIDANAN


PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DMPA DENGAN CARA MENJELASKAN EFEK SAMPING DMPA PADA IBU HAMIL
DI RB FATMAWATI


Oleh :
RIZKY NURUL AZIZAH




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
JURUSAN KEBIDANAN
POLTEKKES KEMENKES JAKARTA 1
2013/2014



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah “BAHASA INDONESIA”. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Drs. Parmono, M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Bahasa Indonesia dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

                                                                                                      Jakarta,  September 2013
Penulis 


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB  I   PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2  Perumusan Masalah
1.3  Tujuan Penelitian
1.4  Manfaat Penelitian

BAB II   PEMBAHASAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DMPA DENGAN CARA MENJELASKAN EFEK SAMPING DMPA PADA IBU HAMIL DI RUMAH BERSALIN FATMAWATI
2.1 Pengertian Kontrasepsi
2.2 Macam-macam Kontrasepsi
2.3 Kontrasepsi Suntikan
2.4 Efek Samping
2.5 Tanda-tanda yang Harus Diwaspadai
2.6 Waktu Pemberian Suntikan DMPA

BAB III PENUTUP
3. 1 Kesimpulan
3. 2 Saran

DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
  
1.1    Latar Belakang

Keluarga berencana adalah  tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindarkan kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur interval kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan dalam jumlah anak dalam keluarga (Suratun, 2008). KB mempunyai peranan dalam  menurunkan resiko kematian ibu melalui pencegahan kehamilan melalui pendewasan usia hamil, menjarangkan kehamilan atau membatasi kehamilan bila anak dianggap cukup. Setiap wanita berhak memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap metode KB yang mereka pilih efektif, aman, terjangkau dan juga metode-metode pengendalian kehamilan yang tidak bertentangan dengan hukum dan  perundang-undangan yang berlaku (Pinem, 2009).
Metode kontrasepsi teridiri dari berbagai macam  metode. Semua metode kontrasepsi mempunyai efek samping (akibat pemakaian KB, bukan  gejala  suatu penyakit), yang harus diketahui oleh pemakai (akseptor) sebelum memakainya. Sebagian besar para pasangan usia subur di Indonesia menggunakan kontrasepsi suntik (Suzzane, 2009).
                        World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa jumlah pengguna kontrasepsi suntik yaitu sebanyak 4.000.000 orang. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan  Indonesia (SDKI) tahun 2010 terdapat kecenderungan peningkatan jumlah pemakai kontrasepsi jenis injeksi dari 11,7% pada tahun 2008, pada tahun 2009 menjadi 15,2%, dan 21,1% pada tahun 2010, kemudian tahun 2011 meningkat menjadi 27,8%. Metode kotrasepsi jenis injeksi merupakan kontrasepsi yang paling banyak digunakan di Indonesia (Surbakti, 2003). Di Jakarta, para akseptor KB aktif sekitar 85,5% di mana diantaranya 40,69% pengguna kontrasepsi suntik di mana di antaranya pengguna kontrasepsi suntik sebanyak 30,23% Sedangkan di Propinsi Sumatara Utara pencapaian tersebut didapatkan penggunaan suntik 417.856 peserta atau sekitar (30,86%) (BKKBN, 2009).

Kontrasepsi suntik yang lebih banyak dipilih adalah Depo Provera atau suntikan 3 bulan (Rifayani, 2004). Depo Provera merupakan suspensi cair yang mengandung kristal depot medroksiprogesteron asetat (DMPA). DMPA merupakan suatu progestin yang mekanisme kerjanya betujuan untuk menghambat sekresi hormon pemicu folikel (FSH) dan LH serta lonjakan LH. Masalah yang sering muncul saat penggunaan suntikan Depo Provera dimulai dari perdarahan yang tidak teratur dan tidak terprediksi serta bercak darah yang berlangsung selama tujuh hari atau lebih atau perdarahan hebat selama beberapa bulan penggunaan Depo Provera. (Varney, 2006)
Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan kaum ibu yaitu KB suntik. Ini di sebabkan karena aman, efektif, sederhana dan murah. Cara ini mulai di sukai masyarakat kita dan di perkirakan  setengah juta pasangan memakai kontrasepsi suntikan untuk mencegah  kehamilan. Namun demikian KB suntik juga mempunyai banyak efek samping, seperti amenorea (30%), spotting (35%) (bercak darah) dan menoragia, seperti halnya dengan kontrasepsi hormonal lainnya dan dijumpai pula keluhan mual, sakit kepala (<1-17%) (pusing), galaktorea (90%), perubahan berat badan (7-9%) (Hartanto dkk, 2005).
Mengingat metode kontrasepsi suntik merupakan salah satu cara KB yang efektif, terpilih dan banyak jumlah penggunanya, namun masih banyak juga didapatkan akseptor kontrasepasi suntik yang mengalami efek samping sehingga para akseptor mengalami kekhawatiran, kecemasan yang berlebihan. Sebaiknya sebelum menggunakan  kontrasepsi suntik,  satu bulan  akseptor harus mengetahui dan memahami tentang efek samping yang ditimbulkannya sehingga tidak menimbulkan drop out bagi akseptor kontrasepsi suntik.
Berdasarkan  latar belakang di atas penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan  judul Pengetahuan Akseptor Suntik Tentang Efek Samping Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA) di Rumah Bersalin Fatmawati tahun 2013.

1.2    Perumusan Masalah
Berdasarkan  latar belakang diatas penulis merumuskan masalah penelitian ini adalah Bagaimanakah Pengetahuan Akseptor Suntik Tentang Efek Samping Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA) di Rumah Bersalin Fatmawati tahun 2013.

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1    Tujuan Umum
Untuk mengetahui Pengetahuan Akseptor suntik tentang efek samping Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA) di Rumah Bersalin Fatmawati tahun 2013.
1.3.2    Tujuan Khusus
1.  Untuk mengetahui pengetahuan akseptor suntik tentang gangguan haid sebagai efek samping dari Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA).
2.   Untuk mengetahui pengetahuan akseptor suntik tentang perubahan berat badan sebagai efek samping dari Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA).
3.   Untuk mengetahui pengetahuan akseptor suntik tentang sakit kepala sebagai efek samping dari Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA).
4.   Untuk mengetahui pengetahuan akseptor suntik tentang keputihan sebagai efek samping dari Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA).

1.4    Manfaat Penelitian
1.      Bagi akseptor
Sebagai informasi data bagi akseptor suntik tentang efek samping yang ditimbulkan  saat  memakai kontrasepsi tersebut sehingga akseptor dapat melakukan penanganan ketika menghadapi efek samping tersebut.


2.    Bagi peneliti
Untuk menambah pengetahuan dalam mengetahui efek samping dalam penggunaan kontrasepsi suntik dan menambah wawasan, serta pengalaman penulis untuk mengaplikasikan  pendidikan yang telah di dapat selama mengikuti pembelajaran mengenai KB.

3.      Bagi Institusi
Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa dalam bidang KB dan referensi bagi peneliti berikutnya.


BAB II
PEMBAHASAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DMPA DENGAN CARA MENJELASKAN EFEK SAMPING DMPA PADA IBU HAMIL DI RUMAH BERSALIN FATMAWATI.

2.1  Pengertian Kontrasepsi
Pengertian kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, upaya ini dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi berupa salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas. Syarat dan kontrasepsi adalah aman pemakaiannya dan dapat dipercaya, efek samping yang merugikan tidak ada, lama kerjanya dapat diatur sesuai keinginan, tidak mengganggu hubungan persetubuhan, tidak memerlukan kontrol yang tepat, sederhana dan murah dan dapat diterima oleh pasangan suami istri (Mochtar, 1998).

2.2  Macam - macam kontrasepsi
Ada dua jenis metoda kontrasepsi yaitu metoda cara kontrasepsi sederhana dan cara modern.
  1. Cara Metode Kontrasepsi Sederhana. Maksudnya adalah cara mencegah kehamilan dengan alat dan juga bisa tanpa alat. Tanpa alat ini bisa dilakukan dengan cara senggama terputus dan juga sistem kalender. Sedangkan bila menggunakan alat bisa dilakukan dengan kondom, cream atau jelly.
  2. Cara Metoda Modern/ Metode Efektif. Cara ini pun dibedakan dengan cara yang permanen atau pun tidak permanen. Alat kontrasepsi permanen adalah dengan jalan operasi steril baik pada laki-laki atau pun wanita. Kontrasepsi permanen laki-laki disebut dengan vasektomi (sterilisasi pada pria) dan pada wanita disebut dengan tubektomi (sterilisasi pada wanita). Pada umumnya kita kenal dengan sebutan istilah KB steril. Sedangkan jenis KB non permanen adalah dengan pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan, dan norplant.
Alat kontrasepsi ini lebih mudah dikenal dengan istilah KB, Padahal KB maksudnya adalah Keluarga Berencana. Tetapi masyarakat biasanya akan menanyakan "Pakai KB apa", bukan "Pakai alat kontrasepsi apa". Itu karena kebiasaan atau faktor budaya saja. Semuanya ini adalah maksudnya mengenai alat, obat, metode kontrasepsi yang dipergunakan baik pada laki-laki atau pun pada perempuan. Bisa disebut alat KB, Obat KB, jenis KB dan seterusnya.

Berikut beberapa macam alat kontrasepsi yang sering digunakan dalam masyarakat kita
  1. Kondom
    Kondom ini adalah alat pencegah kehamilan yang sudah cukup popular bahkan dijual bebas di toko apotik. Kondom ini bahkan menjadi kampanye kondom kontroversial yang pernah diutarakan oleh Menteri Kesehatan. Kondom adalah suatu kantung karet tipis, biasanya terbuat dari lateks, tidak berpori, dipakai untuk menutupi zakar yang berdiri (tegang) sebelum dimasukkan ke dalam liang vagina. Kondom sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium sehingga dapat mencegah penularan penyakit seksual, termasuk adalah penyakit HIV/AIDS.

  1. Obat Pil KB.
Pil KB adalah salah satu mencegah terjadinya kehamilan. Pil KB ini diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur. Minum pil dapat dimulai segera setelah menstruasi, atau pada masa post-partum bagi para ibu yang tidak menyusui bayinya. Jika seorang ibu ingin menyusui, maka hendaknya penggunaan pil ditunda sampai 6 bulan sesudah kelahiran anak (atau selama masih menyusui) dan disarankan menggunakan cara pencegah kehamilan yang lain.

  1. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR).
Biasa kita kenal dengan IUD (Intra Uterine Device). Alat ini sangat efektif dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil. Bagi ibu yang menyusui, AKDR tidak akan mempengaruhi isi, kelancaran ataupun kadar produksi air susu ibu (ASI). Namun, ada wanita yang ternyata belum dapat menggunakan sarana kontrasepsi ini. Karena itu, setiap calon pemakai IUD ini perlu memperoleh informasi yang lengkap tentang seluk-beluk jenis alat kontrasepsi yang satu ini.

  1. Injeksi (Suntik KB).
Metoda alat kontrasepsi suntikan ini adalah merupakan bagian dari obat pencegah kehamilan yang penggunaannya dilakukan dengan jalan menyuntikkan obat tersebut pada wanita subur. Obat ini berisi Depo Medorxi Progesterone Acetate (DMPA). Penyuntikan dilakukan pada otot (intra muskuler) di pantat (gluteus) yang dalam atau pada pangkal lengan (deltoid). Dan ini masuk dalam jenis alat kontrasepsi yang juga biasa dipergunakan.

  1. Norplant (Susuk).
Norplant sama artinya dengan implant. Susuk atau implant ini adalah merupakan alat kontrasepsi jangka panjang yang bisa digunakan untuk waktu 5 tahun. Norplant biasanya dipasang di bawah kulit, di atas daging pada lengan atas wanita. Alat tersebut terdiri dari enam kapsul lentur seukuran korek api yang terbuat dari bahan karet silastik. Masing-masing kapsul mengandung progestin levonogestrel sintetis yang juga terkandung dalam beberapa jenis pil KB. Hormon ini lepas secara perlahan-lahan melalui dinding kapsul sampai kapsul diambil dari lengan pemakai. Kapsul-kapsul ini bisa terasa dan kadangkala terlihat seperti benjolan atau garis-garis. ( The Boston’s Book Collective, The Our Bodies, Ourselves, 1992)

  1. IUD
Adalah alat kontrasepsi jangka panjang yang bisa digunakan untuk jangka waktu 10 tahun yang dimasukkan melalui saluran serviks dan dipasang dalam uterus.

  1. Tubektomi (Sterilisasi Wanita)
Alat kontrasepsi yang dilakukan dengan cara eksisi atau menghambat tuba fallopi yang membawa ovum dari ovarium ke uterus dengan cara melakukan pemotongan atau pengikatan dengan teknik yang disebut kauter, atau dengan pemasangan klep atau cincin silastik. Kontrasepsi ini merupakan satu-satunya kontrasepsi wanita yang bersifat permanen.

  1. Vasektomi (Sterilisasi Pria)
Adalah pemotongan atau penyumbatan vas deferens untuk mencegah lewatnya sperma.

2.3       Kontrasepsi Suntikan
Kontrasepsi berasal dari kata kontra dan sepsi. Kontra berarti “melawan” atau “mencegah”, sedangkan sepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Jadi kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan sel telur dengan sel sperma (Suratun dkk,2008)               
Suntikan Progestin pertama ditemukan pada awal tahun 1950-an, yang pada mulanya digunakan untuk pengobatan endometriosis dan kanker endometrium (carcinoma endometri).Baru pada awal tahun 1960 uji klinis penggunaan suntikan progestin untuk keperluan kontrasepsi dilakukan. Ada beberapa preparat progestin yang pernah dicoba sebagai bahan kontrasepsi, tetap pada saat ini hanya ada dua jenis suntikan progestin yang banyak dipakai, yakni Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA) dan Noretisterone enantat (NET-EN) DMPA telah beredar di lebih dari 90 negara, meskipun FDA (Food and Drug Administration, semacam POM nya di Amerika Serikat), baru menerimanya pada awal tahun 1990an dan Noristeron Enantatpada saat ini telah digunakan disekurang-kurangnya di 40 negara. Meskipun kontroversi tentang keamanan penggunaan DMPA pernah merebak di awal tahun 1980an, tetapi sampai sekarang tidak terdapat bukti bahwa DMPA mempunyai resiko efek samping yang lebih besar dibandingkan kontrasepsi hormonal lainnya.Yang jelas, dengan tidak terdapatnya estrogen pada jenis kontrasepsi ini efek samping yang biasanya muncul karena pengaruh estrogen tidak ada (Siswosudarmo dkk, 2007).
Saat ini ada dua bentuk kontrasepsi suntikan progestin. Kedua bentuk kontrasepsi ini memiliki kandungan zat kimiawi yang berbeda. DMPA (Depo Medroxy Progesterone Asetat) atau Depo provera, merupakan suspensi cairan yang mengandung kristal-kristal mikroDepo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA), DMPA merupakan turunan progesterone. Dosis yang diberikan mendapatkan manfaat kontrasepsi ini ialah 150 mg/mL, yang disuntikan secara intramuscular (IM) setiap 12 minggu.DMPA merupakan suatu progestin yang mekanisme kerjanya bertujuan menghambat sekresi hormon pemicu folikel (FSH) dan LH serta lonjakan LH. Suntikan DMPA akan efektif selama 14 minggu, dengan 2 minggu periode kelonggaran bila suntikan berikutnya tidak dapat diberikan tepat 12 minggu (3 bulan)kemudian.Depo provera merupakan salah satu kontrasepsi yang sangat efektif.DMPA merupakan alternative yang baik bagi wanita yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang yang sangat efektif dan memiliki masalah kesehatan yang merupakan kontra indikasi penggunaan metode kontrasepsi apapun yang mengandung estrogen (Varney, dkk 2007).
                        
Mekanisme kerja kontrasepsi suntikan Depo Provera Medroxy Progesterone (DMPA), dosis yang lazim dipakai adalah 150 mg diberi secara suntikan intra muscular setiap 3 bulan. Setelah suntikan pertama kadar DMPA dalam darah mencapai puncak setelah 10 hari. Setelah itu kadar dalam darah perlahan-perlahan menurun, dan masih dapat terdeteksi setelah 200 hari. Dengan demikian, DMPA dapat memberikan perlindungan yang aman selama 3 bulan bahkan beberapa minggu sesudahnya.Cara kerja DMPA terutama menekan ovulasi, di samping mengentalkan lender serviks, menganggu motilitas tuba dan mempengaruhi perubahan endometrium. Endometrium menjadi tipis, atropik dengan kelenjar yang inaktif (Siswosudarmo, dkk 2007).
Cara menggunakan kontrasepsi Depo Provera (DMPA), harus diberikan dalam lima hari pertama masa menstruasi dan tidak dibutuhkan kontrasepsi tambahan. Setelah itu semua suntikan harus diberikan setiap 12 minggu.Depo Provera (DMPA) dapat diberikan melalui suntikan intra muscular (Everett, 2008).

2.4     Efek Samping
1.      Gangguan Haid
Keluhan terbanyak para pemakai KB suntik adalah gangguan perdarahan.Hampir 40% kasus mengeluh ganguan haid sampai akhir tahun pertama suntikan DMPA. Perdarahan bercak merupakan keluhan terbanyak, yang akan menurun dengan makin lamanya pemakaian, tetapi sebaliknya jumlah kasus yang mengalami pendarahan makin banyak dengan makin lamanya pemakaian (Siswosudarmo, 2007).
Terdapat beberapa istilah gangguan Haid, Amenorea adalah tidak datangnya haid selama akseptor mengikuti suntikan KB selama 3 bulan berturut-turut atau lebih. Spooting adalah bercak-bercak perdarahan di luar haid yang terjadi selama akseptor mengikuti KB suntik.Metrorhagie adalah perdarahan yang berlebihan di luar siklus haid. Menometorhagie adalah datangnya haid yang berlebihan jumlahnya tetapi masih dalam siklus haid, semua keluhan ini dapat terjadi selama menjadi akseptor suntik KB (Suratun, 2008)
Gangguan pola haid amenorrea disebabkan karena terjadinya atrofi endometrium yaitu kadar estrogen turun dan progesteron meningkat sehingga tidak menimbulkan efek yang berlekuk – lekuk di endometrium (Wiknjosastro, 2005), gangguan pola haid spotting disebabkan karena menurunnya hormon estrogen dan kelainan atau terjadinya gangguan hormon (Hartanto, 2005), gangguan pola haid metroraghia disebabkan oleh kadar hormon estrogen dan progesteron yang tidak sesuai dengan kondisi dinding uterus (endometrium) untuk mengatur volume darah menstruasi dan dapat disebabkan oleh kelainan organik pada alat genetalia atau kelainan fungsional, gangguan pola haid menorragia disebabkan karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron sehingga menimbulkan endometrium menghasilkan volume yang lebih banyak (Suratun, 2008).
Penatalaksanaan untuk amenorea, yakinkan ibu bahwa hal itu adalah bisa, bukan merupakan efek samping yang serius, evaluasi untuk mengetahui apakah ada kehamilan, terutama jika terjadi amenorea setelah masa siklus haid yang teratur. Jika tidak ditemui masalah, jangan berupaya untuk merangsang pendarahan dengan kontrasepsi oral kombinasi (Handayani, 2010).
Perdarahan ringan atau spooting, sering terjadi dan tidak berbahaya.Bila spooting terus berlanjut, atau haid telah berhenti tetapi kemudian terjadi perdarahan, maka perlu di cari penyebab perdarahan tersebut kemudian di lakukan penanganan yang tepat. Bila penyebab perdarahan tidak diketahui dengan jelas, Tanya klien apakah masing ingin melanjutkan suntikan. Bila tidak ganti dengan jenis kontrasepsi lain. Bila perdarahan banyak atau lebih dari 8 hari, atau 2 kali lebih banyak dari perdarahan dalam siklus haid yang normal, jelaskan kepada klien bahwa haid yang normal, jelaskan kepada klien bahwa hal itu biasa terjadi pada bulan pertama suntikan. Bila klien tidak dapat menerima keadaan tersebut, atau perdarahan yang terjadi mengancam kesehatan klien, suntikan dihentikan. Ganti metode kontrasepsi lain. Untuk mencegah anemia pada klien, perlu di berikan preparat besi dan anjurkan agar mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi (Pinem, 2009).

2.      Perubahan Berat badan
Berat badan bertambah atau turun beberapa kilogram dalam beberapa bulan setelah pemakaian suntikan KB (Suratun, 2008). Perubahan BB kemungkinan disebabkan karena hormon progesteron mempermudah perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak, sehingga lemak banyak yang bertumpuk di bawah kulit dan bukan merupakan karena retensi (penimbunan) cairan tubuh, selain itu juga DMPA merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus yang dapat menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya. Akibatnya pemakaian suntikan dapat menyebabkan berat badan bertambah (Hanafi, 2005).
Efek samping utama yang lain bagi beberapa waktu ialah kenaikan berat badan. Bukti kenaikan berat badan selama penggunaan DMPA masih perdebatan. Sebuah penelitian melaporkan kenaikan berat badan lebih dari 2,3 kg pada tahun pertama dan selanjutnya meningkat secara bertahap sehingga mencapai 7,5 kg selama 6 tahun. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada masalah berkaitan dengan berat badan. Seorang wanita yang mulai menggunakan Depo Provera harus mendapat saran tentang kemungkinan peningkatan berat badan dan mendapat konseling tentang penatalaksanaan berat badan sesuai dengan gaya hidup sehat (Varney, 2006).
Penanggulanganya, jelaskan kepada akseptor bahwa kenaikan penurunan BB adalah efek samping dari pemakaian suntikan, akan tetapi tidak selalu perubahan berat tersebut diakibatkan dari pemakaian suntikan KB. Kenaikan dapat disebabkan oleh hal-hal lain, namun dapat pula terjadi penurunan BB. Hal ini pun tidaklah selalu disebabkan oleh suntikan KB dan perlu diteliti lebih seksama.Pengaturan diet merupakan pilihan yang utama.Dianjurkan untuk melaksanakan diet rendah kalori disertai olahraga seperti olah raga yang teratur dan sebagainya. Bila terlalu kurus dianjurkan untuk diet tinggi kalori, bila tidak berhasil, dianjurkan untuk ganti cara ke kontrasepsi non hormonal (Suratun, 2008).

3.      Pusing dan Sakit Kepala
Rasa berputar/sakit di kepala, yang dapat terjadi pada satu sisi atau kedua sisi atau seluruh bagian kepala biasanya bersifat sementara.pusing dan sakit kepala disebabkan karena reaksi tubuh terhadap progestreon sehingga hormon estrogen fluktuatif (mengalami penekanan) dan progesteron dapat mengikat air sehingga sel – sel di dalam tubuh mengalami perubahan sehingga terjadi penekanan pada syaraf otak (Suratun, 2008).
Hingga saat ini belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa dengan pemakaian kontrasepsi suntik 3 bulan akan menyebabkan perasaan sakit kepala atau pusing yang menetap. Penelitian yang dilakukan oleh Chrad (2005) menyebutkan bahwa sakit kepala yang dirasakan oleh pengguna kontrasepsi suntik 3 bulan kemungkinan disebabkan oleh penyakit bawaan yang pernah akseptor derita seperti migrain. Seorang wanita yang mulai menggunakan Depo Provera harus mendapat saran tentang kemungkinan sakit kepala (Varney, 2007).
Penanggulanganya, jelaskan secara jujur kepada calon akseptor bahwa kemungkinan tersebut mungkin ada, tetapi jarang terjadi. Biasanya bersifat sementara. Pemberian anti prostaglandin atau obat mengurangi keluhan misalnya asetol 500mg 3x1 tablet/hari atau paracetamol 500mg 3x1. Bila tidak ada perubahan ganti dengan cara kontrasepsi non hormonal (Suratun, 2008). Penanganan lain yang dapat dilakukan yaitu melakukan penilaian berupa periksa tekanan darah, bila perlu lakukan pemeriksaan neurologis yang lengkap, anamnese meliputi pertanyaan tentang berat ringannya sakit kepala, lamanya stress, lokasi sakitnya, hubungan dari sakit kepala dengan minum pil oral, adakah riwayat keluarga dengan migrain. Dan bila sakit kepalanya jelas disebabkan oleh kontrasepsi suntik 3 bualn, hentikan kontrasepsi suntik 3 bulan/ganti preparer lain yang aktifitasnya estrogen dan progesteron lebih rendah, sakit kepala pada akseptor kontrasepsi suntik harus ditanggapi dengan serius karena dapat merupakan tanda bahaya utama yang mendahului CFA.

4.      Keputihan
Adanya cairan putih yang berlebihan yang keluar dari liang senggama dan terasa mengganggu. Ini jarang terjadi pada peserta suntik, tidak berbahaya kecuali bila berbau, panas, atau terasa gatal sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lengkap untuk mengetahui adanya infeksi, jamur, atau candida. Keputihan atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal pada wanita. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur atau juga parasit. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air kecil.
Gejala keputihan antara lain keluarnya cairan berwarna putih kekuningan atau putih kelabu dari saluran vagina. Cairan ini dapat encer atau kental, dan kadang-kadang berbusa. Mungkin gejala ini merupakan proses normal sebelum atau sesudah haid pada wanita tertentu.
Pada penderita tertentu, terdapat rasa gatal yang menyertainya. Biasanya keputihan yang normal tidak disertai dengan rasa gatal. Keputihan juga dapat dialami oleh wanita yang terlalu lelah atau yang daya tahan tubuhnya lemah. Sebagian besar cairan tersebut berasal dari leher rahim, walaupun ada yang berasal dari vagina yang terinfeksi, atau alat kelamin luar.
Penanggulanganya, jelaskan bahwa peserta suntik jarang terjadi keputihan. Apabila hal ini terjadi juga harus di cari penyebabnya dan diberikan pengobatannya. Konseliang sebaiknya dilakukan sebelum peserta ikut KB suntik. Anjurkan untuk menjaga kebersihan alat genetalia dan pakaian dalam agar tetap bersih dan kering. Bila keputihan sangat menganggu sebaiknya di rujuk untuk mendapatkan pengobatan yang tepat (Suratun, 2008)

2.5 Tanda–tanda yang harus diwaspadai
Tanda – tanda yang harus diwaspadai dalam pemakaian DMPA adalah perdarahan berat yang dua kali lebih panjang dari masa haid atau dua kali lebih banyak dalam satu periode masa haid, sakit kepala yang berulang dan berat atau kaburnya penglihatan, nyeri abdomen sebelah bawah yang berat dan buang air kecil yang berulang kali (Depkes RI, 2001). Abses atau perdarahan tempat injeksi dan kanker merupakan komplikasi yang mungkin terjadi pada akseptor KB suntik DMPA (Varney, 2007).

2.6 Waktu Pemberian Suntikan DMPA
Waktu pemberian suntik DMPA dibagi menjadi empat, yaitu setelah menstruasi dalam lima hari atau setiap waktu selama siklus wanita, setelah aborsi dalam waktu lima hari setelah dilakukan aborsi, setelah melahirkan (tidak menyusui) dilakukan setelah melahirkan atau tiga minggu pasca partum kecuali pada wanita yang memiliki riwayat pasca partum, setelah melahirkan (menyusui) dilakukan segera atau setelah melahirkan atau enam minggu pasca persalinan (Varney,2007).

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

  1. Kontrasepsi ialah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan
  2. Jenis kontrasepsi suntik kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin ada dua macam yaitu: depo medroksiprogesteron asetat (DMPA) dan depo noretisteron enantat (Depo Noristerat).
  3. Mekanisme kerja dari kontrasepsi suntikan progesterone dibagi dua, yaitu: primer dan sekunder.
  4. Depo Medroxy Progesterone Asetat sangat efektif sebagai metode kontrasepsi namun memilki fek samping yang membahayakan.

3.2     Saran
Keluarga berencana adalah salah satu cara yang dapat dilakukan oleh semua pasangan yang menginginkan agar tidak terlalu banyak anak. Namun dalam memilih alat kontrasepsi terkadang akseptor keluarga berencana yang baru merasa kesulitan dan kebingunan dalam memilih alat kontrasepsi yang akan mereka gunakan. Oleh karena itu, peran serta semua pihak sangat diperlukan dalam ikut mensukseskan gerakan keluarga berencana tersebut dan peran serta penyuluh kesehatan sangat diperlukan sekali guna peningkatan pemahanan dan pengetahuan masyarakat mengenai alat kontrasepsi, baik itu sisi positif maupun sisi negatif dari setiap jenis alat kontrasepsi.


DAFTAR PUSTAKA


Dunia Pintar dan Cemerlang . (2012, 5 Januari). Makalah : KB . http://duniapintardancemerlang.blogspot.com/2012/01/makalah-kb-dmpa.html

 

Sweety, Asti. (2013, 3 Februari ). KB DMPA. http://astrysweety.blogspot.com/2013/02/kb-dmpa.html

 

Gudang KTI Bidan. 29 Oktober 2009. Depo Medroxyprogesteron asetat (DMPA ). http://d3kebidanan.blogspot.com/2009/10/depo-medroxyprogesteron-asetat-dmpa.html

 


Rabu, 26 Februari 2014

MAKALAH OP



KEGUNAAN TRANS-TIBIAL PROTHESA BAGI PASIEN DIABETES MELITUS USIA 30 SAMPAI 50 TAHUN DENGAN AMPUTASI BAWAH LUTUT DI KLINIK JURUSAN ORTHOTIK DAN PROSTHETIK

Makalah ini diajukan atau disampaikan di forum ilmiah bidang Bahasa Indonesia di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta I


Disusun oleh:
Agung FahmiAnandito
Rullienda Metta Virginia
Veteresia Pangaribuan
Yuni Herlinda Hutabarat


ORTHOTIK DAN PROSTHETIK
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA I
JAKARTA
2013

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum.wr.wb.
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui Kegunaan Trans-Tibial Prothesa Bagi Pasien Diabetes Melitus Usia 30 Sampai 50 Tahun Dengan Amputasi Bawah Lutut di Klinik Jurusan Orthotik dan Prosthetik. Makalah ini memuat tentang, penjelasan mengenai Trans-Tibial Prothesa yang mungkin masih sangat awam didengar oleh masyarakat luas sehingga bagaimanaefek yang dapat dirasakan oleh pasien setelah menggunakan prothesa tersebut.
Penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada guru pembimbing yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semogamakalahinidapatmemberikanwawasan yang lebih luas kepada pembaca. Kami menyadari bahwa karya tulis ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan.Terimakasih.
Wassalamualaikum.Wr.Wb


Jakarta, 1 Maret 2013

              Penulis


KEGUNAAN TRANS-TIBIAL PROTHESA BAGI PASIEN DIABETES MELITUS USIA 30 SAMPAI 50 TAHUN DENGAN AMPUTASI BAWAH LUTUT DI KLINIK JURUSAN ORTHOTIK DAN PROSTHETIK

A.    Pendahuluan

1.   Latar Belakang
Kebiasaan hidup masyarakat Indonesia sangat mempengaruhi kondisi kesehatannya. Mulai dari kebiasaan hidup yang tidak sehat seperti mengkonsumsi makanan cepat saji yang banyak mengandung banyak pengawet sampai pola hidup masyarakat yang malas untuk berolahraga. Dengan perubahan gaya hidup tersebut maka tidak jarang berbagai penyakit dapat timbul, salah satunya Diabetes Mellitus.
Diabetes mellitus adalah gangguan metabolik kronis yang ditandai oleh kurangnya sekresi insulin dan/atau peningkatan resistensi seluler terhadap insulin, sehingga kadar darah gula sederhana (glukosa) meningkat dan dapat menciptakan komplikasi yang melibatkan kerusakan pada mata, ginjal, sistem saraf dan sistem vaskular. Pada penderita Diabetes Melitus yang memiliki gangrene, sebaiknya ditindaklanjuti dengan proses amputasi untuk mencegah pengerusakan jaringan yang utuh.
Amputasi merupakan pembedahan yang menghilangkan sebagian atau seluruh anggota tubuh bagian ekstremitas. Seringkali masyarakat merasa takut dan tidak mau untuk diamputasi karena masyarakat atau klien menggangap hal tersebut sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Padahal dalam konteks pembedahan, amputasi bertujuan untuk menyelamatkan hidup.Secara umum, amputasi merupakan pilihan pembedahan yang terakhir, dimana sedapat mungkin dilakukan prosedur bedah yang mempertahankan ekstremitas.
Menurut Crenshaw, dalam Vitriana (2002), amputasi pada alat gerak bawah mencapai 85%-90% dari seluruh amputasi, dimana amputasi bawah lutut (transtibial amputation) merupakan jenis operasi amputasi yang paling sering dilakukan. Angka kejadian amputasi yang pasti di indonesia saat ini tidak diketahui, tapi menurut Vitrania (2002) terjadi 43.000 kasus per tahun dari jumlah penduduk 280.562.489 jiwa atau sekitar 0,02% sedangkan dalam Raiche et al (2009) disebutkan bahwa terjadi kasus amputasi sekitar 158.000 per tahun dari jumlah penduduk 307.212.123 atau sekitar 0,05%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan kasus amputasi, baik secara jumlah, maupun secara persentase dari jumlah penduduk.
Maka penulis mengambil judul “Kegunaan Trans-Tibial Prothesa Bagi Pasien Diabetes Melitus Usia 30 Sampai 50 Tahun dengan Amputasi Bawah Lutut di Klinik Jurusan Orthotik dan Prosthetik” karena saat ini kami sedang mempelajari mengenai Trans-Tibial Prothesa dengan amputasi dengan tingkat bawah lutut.

  
2.   Identitas Masalah
Penulis mengidentifikasikan masalah tersebut sebagai berikut,
a.  Apa yang dimaksud dengan Trans-Tibial Prothesa dan apakah berguna bagipenderita Diabetes Melitus yang telah diamputasi?
b.      Kapan penderita Diabetes Melitus mengalami amputasi?
c.       Di mana penderita amputasi yang disebabkan Diabetes Melitus mendapatkan prothesa?
d.      Mengapa penderita Diabetes Melitus ada yang diamputasi?
e.       Siapa saja yang berpeluang memiliki faktor resiko terbesar terkena Diabetes Melitus?
f.       Bagaimana efek penggunaan Trans-Tibial Prothesa bagi pasien yang menderita Diabetes Melitus yang diamputasi di bawah lutut?

3.    Rumusan Masalah
Dari indentifikasi masalah di atas, penulis akan merumuskan masalah Trans-Tibal Prothesa sebagai salah satu faktor amputasi yang mungkin terjadi bagi pasien Diabetes Mellitus dengan tingkat amputasi bawah lutut dan memungkinkan untuk membantu penderita dalam melakukan kegiatan sehari – harinya serta dapat meningkatkan mobilitas penderita.

4.   Tujuan Penulisan
a.       Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memperleh gambaran secara nyata mengenai kegunaan Trans-Tibial Prothesa bagi penderita Diabetes mellitus yang mengalami amputasi bawah lutut serta membantu  meningkatkan mobilitas yang telah hilang karena amputasi.
b.      Tujuan Khusus
Diperoleh pengetahuan tentang penggunaan Trans-Tibial Prothesa bagi pasien Diabetes Mellitus yang mengalami amputasi bawah lutut.

5.   Metedologi Penulisan
Hanya ada satu metedologi yaitu objektif praktis, yaitu metedologi yang apabila 
dikembalikan  pada sumber aslinya ada ditengah masyarakat.

6.    Sistematika Penulisan
A.       Pendahuluan
1.   Latar Belakang
2.   Identifikasikan Masalah
3.   Rumusan Masalah
4.   Tujuan Penulisan
5.   Metedologi Penulisan
6.   Sistematika Penulisan
B.   Kegunaan Trans-Tibial Prothesa Bagi Pasien Diabetes Melitus Usia 30 sampai 50 Tahun Dengan Amputasi Bawah Lutut di Klinik Jurusan Orthotik dan Prosthetik

C.       Penutup
1.      Kesimpulan
2.      Saran


B.  Kegunaan Trans-Tibial Prothesa Bagi Pasien Diabetes Melitus Usia 30 Sampai 50 Tahun Dengan Tingkat Amputasi Bawah Lutut di Klinik Jurusan Orthotik dan Prosthetik
           1.    Pengertian Kegunaan Trans-Tibial Prothesa Bagi Pasien Diabetes Melitus Usia 30 sampai 50  
                Tahun Dengan Amputasi Bawah Lutut di Klinik Jurusan Orthotik dan Prosthetik
a.          Kegunaan (ke.gu.na.an) adalah faedah, manfaat
b.         Trans-Tibial dapat diartikan sebagai amputasi baah lutut
c.     Protesa (pro.te.sa) dapat diartikan sebagai alat pengganti anggota gerak yang berfungsi sebagai pengganti anggota gerak yang hilang baik dikarenakan oleh amputasi atau dikarenakan suatu penyakit
d.   Bagi (ba.gi) adalah  kata depan untuk menyatakan tujuan, untuk,  kata depan untuk menyatakan perihal,  akan (hal),  tentang (hal)
e.        Pasien (pa.si.en) adalah orang sakit (yang dirawat dokter), penderita (sakit)
f.       Diabetes mellitus adalah gangguan metabolik kronis yang ditandai oleh kurangnya sekresi insulin dan/atau peningkatan resistensi seluler terhadap insulin, sehingga kadar darah gula sederhana (glukosa) meningkat dan dapat menciptakan komplikasi yang melibatkan kerusakan pada mata, ginjal, sistem saraf dan sistem vaskular.
g.         Usia (u.sia) adalah umur
h.       30 menyatakan banyak, angka.
i.       Sampai (sam.pai) adalah mencapai; datang; tiba; berbatas; terlaksana (tt cita-cita, harapan, niat, dsb); cukup; lebih dari; hingga; mencapai tujuan
j.       50 menyatakan banyak, angka
k.         Tahun (ta.hun) adalah masa yg lamanya dua belas bulan; musim (dl arti masa selama tanaman atau tumbuh-tumbuhan hidup)
l.           Dengan (de.ngan) adalah beserta, dan, memakai, kata penghubung menyatakan hubungan kata kerja dng pelengkap atau keterangannya, ) kata penghubung untuk menerangkan cara (bagaimana terjadinya atau berlakunya).
m.       Tingkat (ting.kat) adalah susunan yg berlapis-lapis atau berlenggek - lenggek seperti lenggek rumah, tumpuan pd tangga (jenjang); tinggi rendah martabat (kedudukan, jabatan, kemajuan, peradaban, dsb); pangkat; derajat; taraf; kelas: duta besar sama; batas waktu (masa).
n.         Amputasi (am.pu.ta.si) adalah pemotongan (anggota badan), terutama kaki dan tangan, untuk menyelamatkan jiwa seseorang
o.         Bawah (ba.wah) adalah  tempat (letak, sisi, bagian, arah) yg lebih rendah
p.         Lutut (lu.tut) adalah (bagian kaki) pertemuan antara paha dan betis yg menjadi tempat sendi agar kaki bisa dilekukkan
q.         Di adalah kata depan untuk menandai tempat, cak kata depan untuk menandai waktu, akan, kepada, dari
r.           Klinik (kli.nik) adalah (bagian) rumah sakit atau lembaga kesehatan tempat orang berobat dan memperoleh advis medis serta tempat mahasiswa kedokteran melakukan pengamatan terhadap kasus penyakit yg diderita para pasien; balai pengobatan khusus; organisasi kesehatan yg bergerak dalam penyediaan pelayanan kesehatan kuratif (diagnosis dan pengobatan), biasanya terhadap satu macam gangguan kesehatan
s.          Jurusan (ju.rus.an) adalah arah; tuju(an); bagian (pengkajian ilmu); bagian dari suatu fakultas atau sekolah tinggi yg bertanggung jawab untuk mengelola dan mengembangkan suatu bidang studi.
t.           Ortotik (or.to.tik) adalah ilmu teknik dalam bidang medis yang mempelajari tentang pengukuran, pembuatan, dan pemasangan alat penguat anggota gerak tubuh yang layuh
u.         Dan adalah penghubung satuan bahasa (kata, frasa, klausa, dan kalimat) yg setara, yg termasuk tipe yg sama serta memiliki fungsi yg tidak berbeda
v.         Prostetik (pros.te.tik) adalah ilmu teknik dalam bidang medis yang mempelajari tentang pengukuran, pembuatan, dan pemasangan alat pengganti anggota gerak tubuh yang hilang

            2.   Rumusan Masalah
a.          Uraian Judul dari Buku
Semua sel dalam tubuh manusia membutuhkan gula agar dapat bekerja dengan normal. Gula dapat masuk ke dalam sel-sel tubuh dengan bantuan hormon insulin. Jika jumlah insulin dalam tubuh tidak cukup, atau jika sel-sel tubuh tidak memberikan respon terhadap insulin (resisten terhadap insulin), maka akan terjadi penumpukan gula di dalam darah. Hal inilah yang terjadi pada pasien diabetes melitus.
Diabetes mellitus, atau yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis, adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh:
·      Ketidakmampuan organ pankreas untuk memproduksi hormon insulin dalam jumlah yang cukup, atau
·      Tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang telah dihasilkan oleh pankreas secara efektif, atau
·      Gabungan dari kedua hal tersebut.
Pada penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol, akan terjadi peningkatan kadar glukosa (gula) darah yang disebut hiperglikemia. Hiperglikemia yang berlangsung dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan serius pada sistem tubuh kita, terutama pada saraf dan pembuluh darah. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengontrol kadar glukosa dalam darah pasien diabetes mellitus. Diabetes mellitus dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
·      Diabetes melitus tipe 1, yakni diabetes mellitus yang disebabkan oleh kurangnya produksi insulin oleh pankreas.
·      Diabetes melitus tipe 2, yang disebabkan oleh resistensi insulin, sehingga penggunaan insulin oleh tubuh menjadi tidak efektif.
·      Diabetes gestasional, adalah hiperglikemia yang pertama kali ditemukan saat kehamilan.
Pada awalnya, pasien sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mengidap diabetes melitus, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Namun, harus dicurigai adanya DM jika seseorang mengalami keluhan klasik DM berupa:
·                                      

                       Poliuria (banyak berkemih) 
·                                       Polidipsia (rasa haus sehingga jadi banyak minum)
·                                     Polifagia (banyak makan karena perasaan lapar terus-
                       menerus)
·                                     Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan 
                       sebabnya
Jika keluhan di atas dialami oleh seseorang,     untuk memperkuat diagnosis dapat diperiksa keluhan tambahan DM berupa:
·                                       Lemas, mudah lelah, kesemutan, gatal
·                                       Penglihatan kabur
·                                       Penyembuhan luka yang buruk
·                                       Disfungsi ereksi pada pasien pria
·                                       Gatal pada kelamin pasien wanita
Diagnosis DM tidak boleh didasarkan atas ditemukannya glukosa pada urin saja. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah dari pembuluh darah vena. Sedangkan untuk melihat dan mengontrol hasil terapi dapat dilakukan dengan memeriksa kadar glukosa darah kapiler dengan glukometer. Seseorang didiagnosis menderita DM jika ia mengalami satu atau lebih kriteria di bawah ini:
·      Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma sewaktu  ≥200 mg/dL
·      Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma puasa  ≥126 mg/dL
·      Kadar gula plasma 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) ≥200 mg/dL
·      Pemeriksaan HbA1C ≥ 6.5%
b.         Pemahaman Glukosa
·      Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir pasien.
·      Puasa artinya pasien tidak mendapat kalori tambahan minimal selama 8 jam.
·      TTGO adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memberikan larutan glukosa khusus untuk diminum. Sebelum meminum larutan tersebut akan dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah, lalu akan diperiksa kembali 1 jam dan 2 jam setelah meminum larutan tersebut. Pemeriksaan ini sudah jarang dipraktekkan.
Jika kadar glukosa darah seseorang lebih tinggi dari nilai normal tetapi tidak masuk ke dalam kriteria DM, maka dia termasuk dalam kategori prediabetes. Yang termasuk ke dalamnya adalah
·      Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT), yang ditegakkan bila hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa didapatkan antara 100 – 125 mg/dL dan  kadar glukosa plasma 2 jam setelah meminum larutan glukosa TTGO < 140 mg/dL
·      Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), yang ditegakkan bila kadar glukosa plasma 2 jam setelah meminum larutan glukosa TTGO antara 140 – 199 mg/dL
Diabetes Mellitus antara lain berupa penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah perifer (yang utama). Sering terjadi pada tungkai bawah (terutama kaki). Akibatnya, perfusi jaringan bagian distal dari tungkai menjadi kurang baik dan timbul ulkus yang kemudian dapat berkembang menjadi nekrosis/gangren yang sangat sulit diatasi dan tidak jarang memerlukan/tindakan amputasi. Tanda-tanda dan gejala-gejala akibat penurunan aliran darah ke tungkai meliputi klaudikasi, nyeri yang terjadi pada telapak atau kaki depan pada saat istirahat atau di malam hari, tidak ada denyut popliteal atau denyut tibial superior, kulit menipis atau berkilat, atrofi jaringan lemak subkutan ,tidak ada rambut pada tungkai dan kaki bawah, penebalan kuku, kemerahan pada area yang terkena ketika tungkai diam, atau berjuntai, dan pucat ketika kaki diangkat.

Penderita Diabtes Melitus akan mengalami infeksi akibat munculnya lingkungan gula darah yang subur untuk berkembanguya bakteri patogen. Karena kekurangan suplai oksigen, bakteri-bakteri yang akan tumbuh subur terutama bakteri anaerob. Neuropati diabetik dapat menyebabkan insensitivitas atau hilangnya kemampuan untuk merasakan nyeri, panas, dan dingin. Diabetes yang menderita neuropati dapat berkembang menjadi luka, parut, lepuh, atau luka karena tekanan yang tidak disadari akibat adanya insensitivitas. Apabila cedera kecil ini tidak ditangani, maka akibatnya dapat terjadi komplikasi dan menyebabkan ulserasi dan bahkan amputasi. Banyak pasien yang harus diamputasi karena mereka tinggal di wilayah yang tak memungkinkan untuk perawatan cepat dan layak untuk menangani luka dan infeksi pada kaki pasien diabetes.


C.     PENUTUP
1.           Kesimpulan
Bahwa penderita Diabetes Melitus yang telah mengalami amputasi bawa lutut, sebaiknya   
memiliki dan menggunakan trans tibial prothesa sebagai salah satu alat pendukung 
mobilitas yang telah hilang.

2.           Saran
Diharapkan perluasan pembahasan tentang karya ilmiah ini mempengaruhi tingkat 
efektifitas Trans-Tibial Prothesa untuk peningkatan alat gerak ekstrimitas bawah. Yang     
sebaiknya digunakan penderita Diabetes Melitus yang telah diamputasi.



DAFTAR PUSTAKA

http://kamusbahasaindonesia.org/diabetes
http://kamusbahasaindonesia.org/tingkat