PENINGKATAN KEMAMPUAN
PEMAHAMAN DMPA DENGAN CARA MENJELASKAN EFEK SAMPING DMPA PADA IBU HAMIL
DI RB FATMAWATI
Oleh :
RIZKY NURUL AZIZAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
JURUSAN KEBIDANAN
POLTEKKES KEMENKES JAKARTA 1
2013/2014
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta
hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah mata kuliah “BAHASA INDONESIA”. Kemudian shalawat
beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah
memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di
dunia.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Bahasa
Indonesia. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Ibu Drs. Parmono, M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Bahasa
Indonesia dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan
selama penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat
kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Perumusan
Masalah
1.3 Tujuan
Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
BAB II PEMBAHASAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DMPA
DENGAN CARA MENJELASKAN EFEK SAMPING DMPA PADA IBU HAMIL DI RUMAH BERSALIN
FATMAWATI
2.1
Pengertian Kontrasepsi
2.2 Macam-macam Kontrasepsi
2.3 Kontrasepsi
Suntikan
2.4 Efek Samping
2.5 Tanda-tanda yang
Harus Diwaspadai
2.6 Waktu Pemberian
Suntikan DMPA
BAB III PENUTUP
3. 1 Kesimpulan
3. 2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Keluarga
berencana adalah tindakan yang membantu
pasangan suami istri untuk menghindarkan kehamilan yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur interval
kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami
istri serta menentukan dalam jumlah anak dalam keluarga (Suratun, 2008). KB
mempunyai peranan dalam menurunkan
resiko kematian ibu melalui pencegahan kehamilan melalui pendewasan usia hamil,
menjarangkan kehamilan atau membatasi kehamilan bila anak dianggap cukup. Setiap
wanita berhak memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap metode KB yang
mereka pilih efektif, aman, terjangkau dan juga metode-metode pengendalian
kehamilan yang tidak bertentangan dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku (Pinem, 2009).
Metode
kontrasepsi teridiri dari berbagai macam
metode. Semua
metode kontrasepsi mempunyai efek samping (akibat pemakaian KB, bukan gejala suatu penyakit), yang harus diketahui oleh
pemakai (akseptor) sebelum memakainya. Sebagian besar para pasangan usia subur
di Indonesia
menggunakan kontrasepsi suntik (Suzzane, 2009).
World
Health Organization (WHO)
mengatakan bahwa jumlah pengguna kontrasepsi suntik yaitu sebanyak 4.000.000
orang. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2010 terdapat
kecenderungan peningkatan jumlah pemakai kontrasepsi jenis injeksi dari 11,7%
pada tahun 2008, pada tahun 2009 menjadi 15,2%, dan 21,1% pada tahun 2010,
kemudian tahun 2011 meningkat menjadi 27,8%. Metode kotrasepsi jenis injeksi merupakan
kontrasepsi yang paling banyak digunakan di Indonesia (Surbakti, 2003). Di
Jakarta, para akseptor KB aktif sekitar 85,5% di mana diantaranya 40,69%
pengguna kontrasepsi suntik di mana di antaranya pengguna kontrasepsi suntik
sebanyak 30,23% Sedangkan di Propinsi Sumatara Utara pencapaian tersebut
didapatkan penggunaan suntik 417.856 peserta atau sekitar (30,86%) (BKKBN,
2009).
Kontrasepsi suntik yang lebih banyak dipilih adalah Depo Provera atau suntikan 3 bulan (Rifayani, 2004). Depo Provera merupakan suspensi cair yang mengandung kristal depot medroksiprogesteron asetat (DMPA). DMPA merupakan suatu progestin yang mekanisme kerjanya betujuan untuk menghambat sekresi hormon pemicu folikel (FSH) dan LH serta lonjakan LH. Masalah yang sering muncul saat penggunaan suntikan Depo Provera dimulai dari perdarahan yang tidak teratur dan tidak terprediksi serta bercak darah yang berlangsung selama tujuh hari atau lebih atau perdarahan hebat selama beberapa bulan penggunaan Depo Provera. (Varney, 2006)
Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan
kaum ibu yaitu KB suntik. Ini di sebabkan karena aman, efektif, sederhana dan
murah. Cara ini mulai di sukai masyarakat kita dan di perkirakan setengah juta pasangan memakai kontrasepsi
suntikan untuk mencegah kehamilan. Namun
demikian KB suntik juga mempunyai banyak efek samping, seperti amenorea (30%),
spotting (35%) (bercak darah) dan menoragia, seperti halnya dengan kontrasepsi
hormonal lainnya dan dijumpai pula keluhan mual, sakit kepala (<1-17%) (pusing),
galaktorea (90%), perubahan berat badan (7-9%) (Hartanto dkk, 2005).
Mengingat
metode kontrasepsi suntik merupakan salah satu cara KB yang efektif, terpilih
dan banyak jumlah penggunanya, namun masih banyak juga didapatkan akseptor
kontrasepasi suntik yang mengalami efek samping sehingga para akseptor
mengalami kekhawatiran, kecemasan yang berlebihan. Sebaiknya sebelum
menggunakan kontrasepsi suntik, satu bulan akseptor harus mengetahui dan memahami tentang
efek samping yang ditimbulkannya sehingga tidak menimbulkan drop out bagi akseptor kontrasepsi suntik.
Berdasarkan
latar belakang di atas penulis
berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul Pengetahuan Akseptor Suntik Tentang Efek
Samping Depo Medroxy
Progesterone Asetat (DMPA) di
Rumah Bersalin Fatmawati tahun 2013.
1.2
Perumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas penulis merumuskan
masalah penelitian ini adalah Bagaimanakah Pengetahuan Akseptor Suntik Tentang
Efek Samping Depo Medroxy
Progesterone Asetat (DMPA) di
Rumah Bersalin Fatmawati tahun 2013.
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Pengetahuan
Akseptor suntik tentang efek samping Depo
Medroxy Progesterone Asetat (DMPA)
di Rumah Bersalin Fatmawati tahun 2013.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk
mengetahui pengetahuan akseptor suntik tentang gangguan haid sebagai efek
samping dari Depo Medroxy
Progesterone Asetat (DMPA).
2. Untuk
mengetahui pengetahuan akseptor suntik tentang perubahan berat badan sebagai
efek samping dari Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA).
3. Untuk
mengetahui pengetahuan akseptor suntik tentang sakit kepala sebagai efek
samping dari Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA).
4. Untuk
mengetahui pengetahuan akseptor suntik tentang keputihan sebagai efek samping
dari Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA).
1.4
Manfaat
Penelitian
1. Bagi
akseptor
Sebagai informasi data bagi
akseptor suntik tentang efek samping yang ditimbulkan saat memakai kontrasepsi tersebut sehingga akseptor
dapat melakukan penanganan ketika menghadapi efek samping tersebut.
2. Bagi peneliti
Untuk
menambah pengetahuan dalam mengetahui efek samping dalam penggunaan kontrasepsi
suntik dan menambah wawasan, serta pengalaman penulis untuk mengaplikasikan pendidikan yang telah di dapat selama
mengikuti pembelajaran mengenai KB.
3. Bagi
Institusi
Sebagai
bahan bacaan bagi mahasiswa dalam bidang KB dan referensi bagi peneliti
berikutnya.
BAB II
PEMBAHASAN
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DMPA DENGAN
CARA MENJELASKAN EFEK SAMPING DMPA PADA IBU HAMIL DI RUMAH BERSALIN FATMAWATI.
2.1 Pengertian
Kontrasepsi
Pengertian kontrasepsi
adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, upaya ini dapat bersifat
sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi berupa salah
satu variabel yang mempengaruhi fertilitas. Syarat dan kontrasepsi adalah aman
pemakaiannya dan dapat dipercaya, efek samping yang merugikan tidak ada, lama
kerjanya dapat diatur sesuai keinginan, tidak mengganggu hubungan persetubuhan,
tidak memerlukan kontrol yang tepat, sederhana dan murah dan dapat diterima
oleh pasangan suami istri (Mochtar, 1998).
2.2 Macam - macam
kontrasepsi
Ada
dua jenis metoda kontrasepsi yaitu metoda cara kontrasepsi sederhana dan
cara modern.
- Cara Metode Kontrasepsi Sederhana. Maksudnya adalah cara mencegah kehamilan dengan alat dan juga bisa tanpa alat. Tanpa alat ini bisa dilakukan dengan cara senggama terputus dan juga sistem kalender. Sedangkan bila menggunakan alat bisa dilakukan dengan kondom, cream atau jelly.
- Cara Metoda Modern/ Metode Efektif. Cara ini pun dibedakan dengan cara yang permanen atau pun tidak permanen. Alat kontrasepsi permanen adalah dengan jalan operasi steril baik pada laki-laki atau pun wanita. Kontrasepsi permanen laki-laki disebut dengan vasektomi (sterilisasi pada pria) dan pada wanita disebut dengan tubektomi (sterilisasi pada wanita). Pada umumnya kita kenal dengan sebutan istilah KB steril. Sedangkan jenis KB non permanen adalah dengan pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan, dan norplant.
Alat kontrasepsi ini lebih mudah dikenal dengan
istilah KB, Padahal KB maksudnya adalah Keluarga Berencana. Tetapi masyarakat
biasanya akan menanyakan "Pakai KB apa", bukan "Pakai alat
kontrasepsi apa". Itu karena kebiasaan atau faktor budaya saja. Semuanya
ini adalah maksudnya mengenai alat, obat, metode kontrasepsi yang dipergunakan
baik pada laki-laki atau pun pada perempuan. Bisa disebut alat KB, Obat KB, jenis
KB dan seterusnya.
Berikut beberapa macam alat kontrasepsi yang
sering digunakan dalam masyarakat kita
- Kondom
Kondom ini adalah alat pencegah kehamilan yang sudah cukup popular bahkan dijual bebas di toko apotik. Kondom ini bahkan menjadi kampanye kondom kontroversial yang pernah diutarakan oleh Menteri Kesehatan. Kondom adalah suatu kantung karet tipis, biasanya terbuat dari lateks, tidak berpori, dipakai untuk menutupi zakar yang berdiri (tegang) sebelum dimasukkan ke dalam liang vagina. Kondom sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium sehingga dapat mencegah penularan penyakit seksual, termasuk adalah penyakit HIV/AIDS.
- Obat Pil KB.
Pil
KB adalah salah satu mencegah terjadinya kehamilan. Pil KB ini diperuntukkan
bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara
yang paling efektif bila diminum secara teratur. Minum pil dapat dimulai segera
setelah menstruasi, atau pada masa post-partum bagi para ibu yang tidak
menyusui bayinya. Jika seorang ibu ingin menyusui, maka hendaknya penggunaan
pil ditunda sampai 6 bulan sesudah kelahiran anak (atau selama masih menyusui)
dan disarankan menggunakan cara pencegah kehamilan yang lain.
- Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR).
Biasa
kita kenal dengan IUD (Intra Uterine Device). Alat ini sangat efektif
dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil. Bagi ibu yang menyusui,
AKDR tidak akan mempengaruhi isi, kelancaran ataupun kadar produksi air susu ibu (ASI). Namun, ada wanita yang
ternyata belum dapat menggunakan sarana kontrasepsi ini. Karena itu, setiap
calon pemakai IUD ini perlu memperoleh informasi yang lengkap tentang
seluk-beluk jenis alat kontrasepsi yang satu ini.
- Injeksi (Suntik KB).
Metoda
alat kontrasepsi suntikan ini adalah merupakan bagian dari obat pencegah
kehamilan yang penggunaannya dilakukan dengan jalan menyuntikkan obat tersebut pada
wanita subur. Obat ini berisi Depo Medorxi Progesterone Acetate (DMPA).
Penyuntikan dilakukan pada otot (intra muskuler) di pantat (gluteus) yang dalam
atau pada pangkal lengan (deltoid). Dan ini masuk dalam jenis alat
kontrasepsi yang juga biasa dipergunakan.
- Norplant (Susuk).
Norplant
sama artinya dengan implant. Susuk atau implant ini adalah merupakan alat
kontrasepsi jangka panjang yang bisa digunakan untuk waktu 5 tahun. Norplant
biasanya dipasang di bawah kulit, di atas daging pada lengan atas wanita. Alat
tersebut terdiri dari enam kapsul lentur seukuran korek api yang terbuat dari
bahan karet silastik. Masing-masing kapsul mengandung progestin levonogestrel
sintetis yang juga terkandung dalam beberapa jenis pil KB. Hormon ini lepas
secara perlahan-lahan melalui dinding kapsul sampai kapsul diambil dari lengan
pemakai. Kapsul-kapsul ini bisa terasa dan kadangkala terlihat seperti benjolan
atau garis-garis. ( The Boston’s Book Collective, The Our Bodies, Ourselves,
1992)
- IUD
Adalah alat kontrasepsi jangka
panjang yang bisa digunakan untuk jangka waktu 10 tahun yang dimasukkan melalui
saluran serviks dan dipasang dalam uterus.
- Tubektomi (Sterilisasi Wanita)
Alat kontrasepsi yang dilakukan
dengan cara eksisi atau menghambat tuba fallopi yang membawa ovum dari ovarium
ke uterus dengan cara melakukan pemotongan atau pengikatan dengan teknik yang
disebut kauter, atau dengan pemasangan klep atau cincin silastik. Kontrasepsi
ini merupakan satu-satunya kontrasepsi wanita yang bersifat permanen.
- Vasektomi (Sterilisasi Pria)
Adalah pemotongan atau
penyumbatan vas deferens untuk mencegah lewatnya sperma.
2.3 Kontrasepsi Suntikan
Kontrasepsi
berasal dari kata kontra dan sepsi. Kontra berarti “melawan” atau “mencegah”,
sedangkan sepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma
yang mengakibatkan kehamilan. Jadi kontrasepsi adalah menghindari/mencegah
terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan sel telur dengan sel
sperma (Suratun dkk,2008)
Suntikan
Progestin pertama ditemukan pada awal tahun 1950-an, yang pada mulanya
digunakan untuk pengobatan endometriosis dan kanker endometrium (carcinoma
endometri).Baru pada awal tahun 1960 uji klinis penggunaan suntikan
progestin untuk keperluan kontrasepsi dilakukan. Ada beberapa preparat
progestin yang pernah dicoba sebagai bahan kontrasepsi, tetap pada saat ini
hanya ada dua jenis suntikan progestin yang banyak dipakai, yakni Depo Medroxy Progesterone Asetat (DMPA) dan Noretisterone enantat (NET-EN) DMPA telah beredar di lebih
dari 90 negara, meskipun FDA (Food and Drug Administration, semacam POM
nya di Amerika Serikat), baru menerimanya pada awal tahun 1990an dan Noristeron Enantatpada saat ini
telah digunakan disekurang-kurangnya di 40 negara. Meskipun kontroversi tentang
keamanan penggunaan DMPA pernah merebak di awal tahun 1980an, tetapi sampai
sekarang tidak terdapat bukti bahwa DMPA mempunyai resiko efek samping yang
lebih besar dibandingkan kontrasepsi hormonal lainnya.Yang jelas, dengan tidak
terdapatnya estrogen pada jenis kontrasepsi ini efek samping yang biasanya
muncul karena pengaruh estrogen tidak ada (Siswosudarmo dkk, 2007).
Saat ini ada dua
bentuk kontrasepsi suntikan progestin. Kedua bentuk kontrasepsi ini memiliki
kandungan zat kimiawi yang berbeda. DMPA (Depo
Medroxy Progesterone Asetat) atau
Depo provera, merupakan suspensi cairan yang mengandung kristal-kristal mikroDepo
Medroxy Progesterone Asetat (DMPA),
DMPA merupakan turunan progesterone. Dosis yang diberikan mendapatkan manfaat
kontrasepsi ini ialah 150 mg/mL, yang disuntikan secara intramuscular (IM) setiap 12 minggu.DMPA
merupakan suatu progestin yang mekanisme kerjanya bertujuan menghambat sekresi
hormon pemicu folikel (FSH) dan LH serta lonjakan LH. Suntikan DMPA akan
efektif selama 14 minggu, dengan 2 minggu periode kelonggaran bila suntikan
berikutnya tidak dapat diberikan tepat 12 minggu (3 bulan)kemudian.Depo
provera merupakan salah satu
kontrasepsi yang sangat efektif.DMPA merupakan alternative yang baik bagi
wanita yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang yang sangat efektif dan
memiliki masalah kesehatan yang merupakan kontra indikasi penggunaan metode
kontrasepsi apapun yang mengandung estrogen (Varney, dkk 2007).
Mekanisme kerja
kontrasepsi suntikan Depo
Provera Medroxy Progesterone (DMPA),
dosis yang lazim dipakai adalah 150 mg diberi secara suntikan intra muscular setiap 3 bulan. Setelah suntikan
pertama kadar DMPA dalam darah mencapai puncak setelah 10 hari. Setelah itu
kadar dalam darah perlahan-perlahan menurun, dan masih dapat terdeteksi setelah
200 hari. Dengan demikian, DMPA dapat memberikan perlindungan yang aman selama
3 bulan bahkan beberapa minggu sesudahnya.Cara kerja DMPA terutama menekan
ovulasi, di samping mengentalkan lender serviks, menganggu motilitas tuba dan
mempengaruhi perubahan endometrium. Endometrium menjadi tipis, atropik dengan
kelenjar yang inaktif (Siswosudarmo, dkk 2007).
Cara menggunakan
kontrasepsi Depo Provera (DMPA), harus diberikan dalam lima hari pertama masa
menstruasi dan tidak dibutuhkan kontrasepsi tambahan. Setelah itu semua
suntikan harus diberikan setiap 12 minggu.Depo Provera (DMPA) dapat diberikan melalui
suntikan intra muscular (Everett,
2008).
2.4 Efek Samping
1.
Gangguan Haid
Keluhan terbanyak para
pemakai KB suntik adalah gangguan perdarahan.Hampir 40% kasus mengeluh ganguan
haid sampai akhir tahun pertama suntikan DMPA. Perdarahan bercak merupakan
keluhan terbanyak, yang akan menurun dengan makin lamanya pemakaian, tetapi
sebaliknya jumlah kasus yang mengalami pendarahan makin banyak dengan makin
lamanya pemakaian (Siswosudarmo, 2007).
Terdapat
beberapa istilah gangguan Haid, Amenorea adalah tidak datangnya haid selama
akseptor mengikuti suntikan KB selama 3 bulan berturut-turut atau lebih.
Spooting adalah bercak-bercak perdarahan di luar haid yang terjadi selama
akseptor mengikuti KB suntik.Metrorhagie adalah perdarahan yang berlebihan di
luar siklus haid. Menometorhagie adalah datangnya haid yang berlebihan
jumlahnya tetapi masih dalam siklus haid, semua keluhan ini dapat terjadi
selama menjadi akseptor suntik KB (Suratun, 2008)
Gangguan pola haid amenorrea disebabkan karena terjadinya
atrofi endometrium yaitu kadar estrogen turun dan progesteron meningkat
sehingga tidak menimbulkan efek yang berlekuk – lekuk di endometrium
(Wiknjosastro, 2005), gangguan pola haid spotting disebabkan karena menurunnya
hormon estrogen dan kelainan atau terjadinya gangguan hormon (Hartanto, 2005),
gangguan pola haid metroraghia disebabkan oleh kadar hormon estrogen dan
progesteron yang tidak sesuai dengan kondisi dinding uterus (endometrium) untuk
mengatur volume darah menstruasi dan dapat disebabkan oleh kelainan organik
pada alat genetalia atau kelainan fungsional, gangguan pola haid menorragia
disebabkan karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron sehingga
menimbulkan endometrium menghasilkan volume yang lebih banyak (Suratun, 2008).
Penatalaksanaan
untuk amenorea, yakinkan ibu bahwa hal itu adalah bisa, bukan merupakan efek
samping yang serius, evaluasi untuk mengetahui apakah ada kehamilan, terutama
jika terjadi amenorea setelah masa siklus haid yang teratur. Jika tidak ditemui
masalah, jangan berupaya untuk merangsang pendarahan dengan kontrasepsi oral
kombinasi (Handayani, 2010).
Perdarahan
ringan atau spooting, sering terjadi dan tidak berbahaya.Bila spooting terus
berlanjut, atau haid telah berhenti tetapi kemudian terjadi perdarahan, maka
perlu di cari penyebab perdarahan tersebut kemudian di lakukan penanganan yang
tepat. Bila penyebab perdarahan tidak diketahui dengan jelas, Tanya klien
apakah masing ingin melanjutkan suntikan. Bila tidak ganti dengan jenis
kontrasepsi lain. Bila perdarahan banyak atau lebih dari 8 hari, atau 2 kali
lebih banyak dari perdarahan dalam siklus haid yang normal, jelaskan kepada
klien bahwa haid yang normal, jelaskan kepada klien bahwa hal itu biasa terjadi
pada bulan pertama suntikan. Bila klien tidak dapat menerima keadaan tersebut,
atau perdarahan yang terjadi mengancam kesehatan klien, suntikan dihentikan.
Ganti metode kontrasepsi lain. Untuk mencegah anemia pada klien, perlu di
berikan preparat besi dan anjurkan agar mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung zat besi (Pinem, 2009).
2.
Perubahan Berat badan
Berat badan
bertambah atau turun beberapa kilogram dalam beberapa bulan setelah pemakaian
suntikan KB (Suratun, 2008). Perubahan BB kemungkinan disebabkan karena hormon progesteron
mempermudah perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak, sehingga lemak banyak
yang bertumpuk di bawah kulit dan bukan merupakan karena retensi (penimbunan)
cairan tubuh, selain itu juga DMPA merangsang pusat pengendali nafsu makan di
hipotalamus yang dapat menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya.
Akibatnya pemakaian suntikan dapat menyebabkan berat badan bertambah (Hanafi,
2005).
Efek
samping utama yang lain bagi beberapa waktu ialah kenaikan berat badan. Bukti
kenaikan berat badan selama penggunaan DMPA masih perdebatan. Sebuah penelitian
melaporkan kenaikan berat badan lebih dari 2,3 kg pada tahun pertama dan
selanjutnya meningkat secara bertahap sehingga mencapai 7,5 kg selama 6 tahun.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada masalah berkaitan dengan
berat badan. Seorang wanita yang mulai menggunakan Depo Provera harus mendapat
saran tentang kemungkinan peningkatan berat badan dan mendapat konseling
tentang penatalaksanaan berat badan sesuai dengan gaya hidup sehat (Varney, 2006).
Penanggulanganya, jelaskan kepada akseptor bahwa kenaikan
penurunan BB adalah efek samping dari pemakaian suntikan, akan tetapi tidak
selalu perubahan berat tersebut diakibatkan dari pemakaian suntikan KB.
Kenaikan dapat disebabkan oleh hal-hal lain, namun dapat pula terjadi penurunan
BB. Hal ini pun tidaklah selalu disebabkan oleh suntikan KB dan perlu diteliti
lebih seksama.Pengaturan diet merupakan pilihan yang utama.Dianjurkan untuk
melaksanakan diet rendah kalori disertai olahraga seperti olah raga yang
teratur dan sebagainya. Bila terlalu kurus dianjurkan untuk diet tinggi kalori,
bila tidak berhasil, dianjurkan untuk ganti cara ke kontrasepsi non hormonal
(Suratun, 2008).
3.
Pusing dan
Sakit Kepala
Rasa berputar/sakit di kepala, yang dapat terjadi pada
satu sisi atau kedua sisi atau seluruh bagian kepala biasanya bersifat
sementara.pusing dan sakit kepala disebabkan karena reaksi tubuh terhadap
progestreon sehingga hormon estrogen fluktuatif (mengalami penekanan) dan
progesteron dapat mengikat air sehingga sel – sel di dalam tubuh mengalami
perubahan sehingga terjadi penekanan pada syaraf otak (Suratun, 2008).
Hingga saat ini belum ada penelitian yang menyebutkan
bahwa dengan pemakaian kontrasepsi suntik 3 bulan akan menyebabkan perasaan
sakit kepala atau pusing yang menetap. Penelitian yang dilakukan oleh Chrad
(2005) menyebutkan bahwa sakit kepala yang dirasakan oleh pengguna kontrasepsi
suntik 3 bulan kemungkinan disebabkan oleh penyakit bawaan yang pernah akseptor
derita seperti migrain. Seorang
wanita yang mulai menggunakan Depo Provera harus mendapat saran tentang
kemungkinan sakit kepala (Varney, 2007).
Penanggulanganya, jelaskan secara jujur kepada calon
akseptor bahwa kemungkinan tersebut mungkin ada, tetapi jarang terjadi.
Biasanya bersifat sementara. Pemberian anti prostaglandin atau obat mengurangi
keluhan misalnya asetol 500mg 3x1 tablet/hari atau paracetamol 500mg 3x1. Bila
tidak ada perubahan ganti dengan cara kontrasepsi non hormonal (Suratun, 2008).
Penanganan lain yang dapat dilakukan yaitu melakukan penilaian berupa periksa tekanan darah, bila perlu
lakukan pemeriksaan neurologis yang lengkap, anamnese meliputi pertanyaan
tentang berat ringannya sakit kepala, lamanya stress, lokasi sakitnya, hubungan
dari sakit kepala dengan minum pil oral, adakah riwayat keluarga dengan
migrain. Dan bila sakit kepalanya jelas disebabkan oleh kontrasepsi suntik 3
bualn, hentikan kontrasepsi suntik 3 bulan/ganti preparer lain yang
aktifitasnya estrogen dan progesteron lebih rendah, sakit kepala pada akseptor
kontrasepsi suntik harus ditanggapi dengan serius karena dapat merupakan tanda
bahaya utama yang mendahului CFA.
4.
Keputihan
Adanya cairan putih yang berlebihan yang keluar dari
liang senggama dan terasa mengganggu. Ini jarang terjadi pada peserta suntik,
tidak berbahaya kecuali bila berbau, panas, atau terasa gatal sebaiknya
dilakukan pemeriksaan lebih lengkap untuk mengetahui adanya infeksi, jamur, atau
candida. Keputihan atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal
pada wanita.
Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya
disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara
lain bakteri, virus, jamur atau juga parasit. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing,
sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air
kecil.
Gejala
keputihan antara lain keluarnya cairan berwarna putih kekuningan atau putih
kelabu dari saluran vagina. Cairan
ini dapat encer atau kental, dan kadang-kadang berbusa. Mungkin gejala ini
merupakan proses normal sebelum atau sesudah haid pada wanita
tertentu.
Pada
penderita tertentu, terdapat rasa gatal yang menyertainya. Biasanya keputihan
yang normal tidak disertai dengan rasa gatal. Keputihan juga dapat
dialami oleh wanita yang terlalu lelah atau yang daya tahan tubuhnya lemah.
Sebagian besar cairan tersebut berasal dari leher rahim, walaupun
ada yang berasal dari vagina yang terinfeksi, atau alat kelamin luar.
Penanggulanganya, jelaskan bahwa peserta suntik jarang
terjadi keputihan. Apabila hal ini terjadi juga harus di cari penyebabnya dan
diberikan pengobatannya. Konseliang sebaiknya dilakukan sebelum peserta ikut KB suntik. Anjurkan untuk
menjaga kebersihan alat genetalia dan pakaian dalam agar tetap bersih dan kering. Bila
keputihan sangat menganggu sebaiknya di rujuk untuk mendapatkan pengobatan yang
tepat (Suratun, 2008)
2.5 Tanda–tanda yang harus diwaspadai
Tanda – tanda yang harus diwaspadai
dalam pemakaian DMPA adalah perdarahan berat yang dua kali lebih panjang dari
masa haid atau dua kali lebih banyak dalam satu periode masa haid, sakit kepala
yang berulang dan berat atau kaburnya penglihatan, nyeri abdomen sebelah bawah
yang berat dan buang air kecil yang berulang kali (Depkes RI,
2001). Abses atau perdarahan tempat injeksi dan kanker merupakan komplikasi
yang mungkin terjadi pada akseptor KB suntik DMPA (Varney, 2007).
2.6 Waktu Pemberian Suntikan DMPA
Waktu pemberian suntik DMPA dibagi menjadi empat, yaitu
setelah menstruasi dalam lima hari atau setiap waktu selama siklus wanita,
setelah aborsi dalam waktu lima hari setelah dilakukan aborsi, setelah
melahirkan (tidak menyusui) dilakukan setelah melahirkan atau tiga minggu pasca
partum kecuali pada wanita yang memiliki riwayat pasca partum, setelah
melahirkan (menyusui) dilakukan segera atau setelah melahirkan atau enam minggu
pasca persalinan (Varney,2007).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
- Kontrasepsi ialah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan
- Jenis kontrasepsi suntik kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin ada dua macam yaitu: depo medroksiprogesteron asetat (DMPA) dan depo noretisteron enantat (Depo Noristerat).
- Mekanisme kerja dari kontrasepsi suntikan progesterone dibagi dua, yaitu: primer dan sekunder.
- Depo Medroxy Progesterone Asetat sangat efektif sebagai metode kontrasepsi namun memilki fek samping yang membahayakan.
3.2 Saran
Keluarga berencana adalah
salah satu cara yang dapat dilakukan oleh semua pasangan yang menginginkan agar
tidak terlalu banyak anak. Namun dalam memilih alat
kontrasepsi terkadang akseptor keluarga berencana yang baru merasa kesulitan
dan kebingunan dalam memilih alat kontrasepsi yang akan mereka gunakan. Oleh
karena itu, peran serta semua pihak sangat diperlukan dalam ikut mensukseskan
gerakan keluarga berencana tersebut dan peran serta penyuluh kesehatan sangat
diperlukan sekali guna peningkatan pemahanan dan pengetahuan masyarakat
mengenai alat kontrasepsi, baik itu sisi positif maupun sisi negatif dari
setiap jenis alat kontrasepsi.
DAFTAR PUSTAKA